RUANGPOLITIK.COM— Membaca peta politik serta peluang siapa yang akan menjadi ‘penganten’ saat Pilpres 2024 mendatang menjadi analisa yang menarik. Dalam release hasil survey yang dilakukan oleh lembaga riset Indonesia Political Opinion (IPO) yang dilaksanakan Rabu (26/10) di Jakarta mencoba membaca selera masyarakat.
IPO menggelar survey terkait kepemilihan capres dan cawapres yang ideal bagi publik. Dan dalam bentuk survey ini diterapkan ada tiga pasangan. Dalam kajiannya Dedi Kurnia Syah selaku Direktur IPO menyampaikan jika metode ini memiliki pengukuran kesalahan (margin of error) 2.90 persen, dengan tingkat akurasi data 95 persen.
Pertanyaan yang dilemparkan kepada responden adalah jika hari ini dilaksanakan pemilihan presiden siapakah yang akan dipilih? Dari simulasi pasangan calon yang dilemparkan ke publik komposisi pasangan yang paling unggul adalah Prabowo Subianto dan Erick Thohir dengan perolehan suara 34,7 persen.
Sedangkan di posisi kedua Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyo (AHY) dengan perolehan 27,5 persen. Dan di posisi ketiga Airlangga Hartarto dan Ridwan Kamil dengan perolehan suara 17,5 persen.
Sementara jika Anies Baswedan ingin menang maka pasangan cawapres untuknya adalah Ganjar Pranowo dengan perolehan suara mencapai 41,5 persen. Duet ini dianggap mampu mengalahkan duet tangguh Prabowo Subianto dan Erick Thohir dengan perolehan suara 37,5 persen. Sedangkan duet Puan Maharani dan Muhaimin Iskandar terseok dengan perolehan hanya 16,1 persen.
Dengan memperhatikan hasil release survey IPO diatas, maka akan menjadi pertimbangan khusus bagi partai yang berkoalisi dalam menentukan kandidat yang diusung. Pasangan Prabowo dan Erick dianggap paling ideal dan memiliki figur yang seimbang, karena dari kalangan militer, pengusaha dan keduanya sama-sama bergabung dalam pemerintahan.
Sementara bagi Anies Baswedan figur Agus Harimurti Yudhoyo (AHY) yang digadang-gadang sebagai cawapres ideal hanya akan merugikan Anies, dengan perolehan suaran no dua di angka 27,5 persen. Tentunya partai koalisi NasDem, Demokrat dan PKS harus bekerja keras untuk mendongkrak nilai jual AHY yang masih belum mampu mendongkrak popularitas Anies.
Sementara jika ingin menang telak maka pasangan duet yang ideal adalah Anies dan Ganjar. Namun, dapatkah Ganjar memperoleh tiket cawapres ini? Jika iya dengan konsekuensi ia harus keluar sebagai kader PDI-Perjuangan. Dan bergabung dengan KIB yang akan memasang duet ini. Dan untuk Puan Maharani, partai banteng ini harus leghowo jika nilai tawar Puan diarus bawah dan masyarakat kurang popluer. Untuk itu PDI-P harus bekerja ekstra agar elektoral Puan Maharani bisa naik.
Setting pengambilan sample ini menggunakan teknik multistage random sampling (MRS), atau pengambilan sample bertingkat. Survei ini mengambil representasi sample sejumlah 1200 responden yang tersebar proporsional secara nasional. Dengan teknik tersebut memungkinkan setiap anggota populasi (responden) mempunyai peluang yang sama untuk dipilih atau tidak dipilih menjadi responden. Untuk menguji validitas responden, IPO melakukan spot check pada 15 persen dari total populasi sample. (IY)
Editor: Ivo Yasmiati










